Titipan-Nya

Terbesit seketika di benak ini, bagaimana jika semua yang ada dan dimiliki sekarang hilang begitu saja? Ya itu semua bisa terjadi kalau Allah sudah menghendaki.. suami/istri/anak-anak yang selama ini mendampingi, bagaimana kalau ia tiba-tiba meninggalkan kita? Kita yang selalu merasa sehat, tiba-tiba divonis sakit keras? Materi yang dimiliki semua tak tersisa bila terjadi kebakaran, kebanjiran, dll.

titipan

ilustrasi

Apapun kehilangan yang kita tak tahu kapan diambil-Nya, sejak dini kita perlu mempersiapkan diri. Berbagi sedikit pengalaman, ketika semalam tiba-tiba jantung saya terasa sangat sakit, sampai-sampai tidak bisa melakukan apapun. Yang terbayang adalah kematian yang terasa dekat. Ya Allah bangun dari tidur saja sudah kesulitan, mungkinkah ajal sudah dekat..😥

Semua dosa-dosa seakan diingatkan, ibadah yang dirasa belum sempurna, saya teringat semua yang pernah dilakukan..menangis yang pertama dilakukan sambil terus beristighfar.. Semoga Allah mengampuni semua dosa yang pernah saya lakukan.

Ajaib, bayangan akan kematian setelah bertasbih dan beristighfar menyebut nama-Nya, tidak menakutkan saya lagi, tenang dan pasrah saja waktu itu. “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah (zikrullah) hati menjadi tenang.” (Q-S Ar-Ra’d ayat 28).

Saat kejadian saya hanya bersama suami, dialah yang bersabar mengurus saya dan mendoakan saat saya hampir “sekarat” semalam.

Dalam keadaan lemah saya berkata: “Maafkan jika selama ini saya banyak salah mas, saya belum siap jika hrs pergi saat ini sementara saya belum memberikan keturunan buat mas” dengan sesenggukan saya terus memeluknya belum mau lepas. Dengan lembut dia mengusap kepala saya dan mengatakan, saya tidak boleh berputus asa. Kita semua hanya titipan, tugas dia adalah menjaga saya yang dititipkan Allah kepadanya, kalau namanya titipan harus benar-benar dirawat dan disayang, tidak perlu panik saat sakit. Sakit yang dirasa adalah bentuk kecintaan Allah pada kita, supaya kita bisa introspeksi atas semua yang pernah kita lakukan. Selama dia masih kuat dan sanggup, dia akan terus melindungi saya. Maha besar Allah, usai mendengar itu semua sakit saya berangsur-angsur membaik, seakan-akan kekuatan dan kesehatan kembali Allah berikan dan titipkan lagi kepada saya..

Suamiku pun melanjutkan ucapannya anak adalah rezeki, jika kita belum diberi maka kita tidak boleh berputus asa, karena yakin Allah akan memberi di waktu yang tepat dan Dia sedang mempersiapkan anak-anak yang soleh/soleha untuk dititipkan ke kita.. yang perlu dan harus kita lakukan saat ini berdoa dan terus berusaha, untuk hasil, serahkan semua pada Allah. 

Dalam diam, saya pun tersadar suami adalah titipan Allah ke saya, bagaimanapun saya juga harus memperlakukannya sebaik mungkin. Namun terbayang bagaimana jika semua yang saya miliki sekarang tiba-tiba Allah ambil? siapkah saya?.. saya hanya memohon pada-Nya jika boleh saya ingin terus bersama titipan-Nya hingga saya menua nanti. Jika tidak, semoga Allah perkenankan untuk saya yang terdahulu menghadap-Nya.

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).”(QS Al-Dhuha: 11).

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: