Zuwad; Menapak Jejak Cinta (Salah Satu Obat Manjur Mencegah Perceraian)

Yah tulisan ini sengaja aku masukkan ke blog, bukan karena promosi atau apapun, tapi lebih karena isi di dalamnya. Ketika membaca bukunya aku langsung mengingat kembali hakekat dari sebuah perkawinan, Ya cocok dengan judulnya Zuwad, Menapak Jejak Cinta.

Judul yang aku tulis di atas merupakan judul buku yang ditulis oleh Syamsuddin CH Haesy. Buku ini memang bagus dan kita seakan bisa masuk ke suasana dan terharu atas yang dituliskan di dalamnya (bukan blog berbayar loh!!).

Penulisnya memang sangat pandai meramu dan membuatnya menjadi kalimat-kalimat indah… (jelas aja, wartawan senior). Isi di dalamnya menceritakan tentang bagaimana sebelum, saat dan sesudah penikahan terjadi. Saat membaca bab istri, tanpa terasa airmata bergulir di pelupuk mata ini. Terkadang meski tahu istri itu harus bagaimana, tetap saja sikap membangkang atau tidak patuh terhadap suamiku masih aku lakukan, padahal kalau dipikir-pikir, suami udah baik banget. (hehe boleh dong muji suami sendiri).

Bersama Pak Syamsuddin CH Haesy Saat peluncuran buku Zuwad🙂

Yah terkadang kita suka lupa atas peran dari kita masing-masing dan untuk kembali sadar, bisa didapat dengan apa saja, seperti aku yang saat ini bisa merenung dan menyadari sejenak tentang peranku sebagai istri melalui Zuwad. Seringkali aku menampakkan wajah cemberut atau marah di saat suami menjemput di tempat kerja, telat dikit ngambek. Padahal aku tahu dia juga capek seharian mencari nafkah. Intinya di buku tertulis secapek-capeknya istri ketika di depan suami khususnya saat dia pulang kerja, istri harus selalu menampakkan wajah cerah, senyum dan menyambut dengan penuh kegembiraan dengan menyampaikan kerinduan dan berita bahagia (hal itu memang jarang kulakukan, aku berpikir udah sama-sama capek, harusnya suami juga ngerti donk.. Ini yang sebisa mungkin dihindari!!).

Kedua, tanpa sengaja dengan berbagai alasan, tanpa disadari kita sering mengeraskan suara dan membentak suami (maafkan aku ya mas..😦 ) padahal suami akan lebih menghargai jika kita memperindah dan melembutkan suara, dan jangan lupa berhias untuk suami.

Selain itu ikhlas, menjaga kesetiaan, pandai menjaga kehormatan saat suami tak ada di dekat kita, memuliakan suami dan tamu suami, selalu sabar dan bisa merapikan rumah.

Foto bersama Pak Syam (kok merem sih?)

Di buku ini bukan saja peran istri yang disebutkan, suami, pentingnya keluarga, anak dan masih banyak lagi.. bagaimana mencapai kebahagian dalam perkawinan dan menyelamatkan bahtera pernikahan dari ancaman perceraian, buku ini juga memberi kiat-kiat mencapai kebahagiaan dalam perkawinan. Buat yang penasaran ga rugi beli dan baca buku ini, isinya sarat makna dan disusun berdasarkan nilai Islami tentunya..

Oh ya sekilas tentang Pak Syam. Waktu aku menikah, Pak Syam ini juga jadi saksi di pernikahanku, ternyata pas aku hadir di peluncuran bukunya, malah Pak Syam yang minta foto bareng aku, hehe. Pak Syam bilang ke suamiku aku udah seperti anaknya, yah semoga dengan buku yang diluncurkan ini, semakin menambah  kebahagiaan di pernikahanku dan suami, Amiin. Semoga keluargaku bisa menjadi Sakinah, Mawaddah dan Warohmah.. langgeng selamanya.

Pak Syam hadir sewaktu di pernikahanku

Wassalam

Dhita Koesno aka Dewi Adhitya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: