Secuil Cerita Danau Toba yang tertinggal

Meski telah sebulan berlalu, tapi bayangan keindahan dan cantiknya Danau Toba tak kan pernah hilang di ingatanku.

Berpose bersama Adik-dik di Patung Horas (Selamat Datang)-Danau Toba

Sebulan yang lalu ketika aku dan suami pulang ke kampung halamanku di Medan, aku dan keluarga menyempatkan untuk datang ke Danau Toba, awalnya bayangan akan jauhnya jarak yang ditempuh sempat menyurutkan keinginan itu, tapi ayahku dengan gigihnya terus menyemangati untuk singgah di Danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara itu.

Beatiful View from Tele Peak😉

Yah memang tak rugi mengunjungi danau indah ini, dari sudut pandang mana pun kita lihat, keindahannya tetap memantul dan terpancar.

Aku memang menulis ini juga demi mengagumi kebesaran sang pencipta, betapalah aku hanya kecil di hadapan-Nya, tak terasa saat menikmati beautiful lake toba air mata menggenang, hanya bisa mengucap puji-pujian pada ALLAH SWT,  Subhanallah, that’s really beautiful🙂

Sunset di Ferry

Padahal ini bukan kali pertama aku pergi ke Danau Toba, namun tetap saja menimbulkan decak kagum pada danau vulkanik yang di tengahnya terdapat Pulau Samosir ini

Jarak  yang ditempuh dari Medan menuju Danau Toba 176 km, atau sekitar 4 jam perjalanan melewati Pematang Siantar, sampai di Danau Toba, kami pun berangkat menuju pulau samosir menaiki kapal ferri di pelabuhan ajibata, prapat. Sampai di penyebrangan kami harus menunggu kapal selanjtnya karena baru saja ferry menuju samosir berangkat, yah sudahlah, tidak masalah. Sambil menunggu, sambutan dari anak-anak prapat lumayan menghilangkan rasa jenuh. Di pelabuhan itu mereka meminta ijin untuk menyanyi (mengamen), suamiku heran dan mengatakan “Bedanya dengan di Jakarta anak-anak di sini kalau mau ngamen ijin dulu, kalau di Jakarta langsung aja dan terkadang kalau nggak dikasi malah marah” hhmm suara mereka memang merdu dan mungkin memang sudah terlatih juga, setelah naik ke kapal, anak-anak tadi kembali meminta ijin untuk mengambil koin yang dilemparkan ke danau untuk mereka, ya lumayan menghibur. Hingga akhirnya kapal berangkat menuju tuk-tuk, sepanjang perjalanan panorama dan udara sejuknya terus menemani hingga sampai di tuk-tuk, dan kami menuju Hotel Silintong yangjuga tak kalah bagus tempatnya.

Besoknya kami pun harus pulang, padahal rasanya belum puas menikmati keindahan itu. Ayahku kembali menyarankan agar pulangnya tak perlu menyeberang dan melewati Pematang Siantar, namun menyusuri pinggiran Danau Toba melewati Sidikalang dan Brastagi, hanya saja perjalanan yang ditempuh lebih jauh sekitar 240 km atau sekitar 6-7 jam, kami pun setuju dan berpikir nanggung sudah sampai di sini, sekalian saja.

View From Hotel Silintong-Samosir (Sunset)

Sepanjang perjalanan kami pun sesekali berhenti untuk mengabadikan  keindahan di Danau Toba, hingga sampai di puncak, namanya Tele, kami berhenti dan terlihat jelas pemandangan Danau Toba dengan Pulau Samosir di tengahnya, benar-benar seperti lukisan, beatiful pantings of nature.  Keindahannya tak mau kunikmati sendiri, foto-fotonya yah sedikit bisa aku share di sini, enjoy it..🙂

Pose with my Hubby😀

2 Responses to “Secuil Cerita Danau Toba yang tertinggal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: